RSS

Keluarga Pertama Raya :D

Setiap pagi menyambut hari, hal pertama yang tak buat aku sabar ialah saat aku bertemu kalian
bersama dengan banyak rasa yang kita lalui. Masih ingat dengan ketegangan suatu malam. ketika salah satu dari kita diintimidasi  oleh segerombolan pengacau kita. Itu kali pertama aku mengalami suasana seperti itu.
Hebat. Takjub. Norak bertemankan ramai
Pengaduan luar yang menuntut kita memutuskan sesuatu. Dengan banyak argumen kita limpahkan satu-satu. Saling menguatkan untuk satu keputusan. Keadaan di luar semakin bergolak, dan ketakjuban itu memuncak saat aku melihat kekuatan angkatan datang bergerombol. Sampai-sampai ingin rasanya untuk pindah dengan mereka. Terang saja, menjadi bagian dari peristiwa-peristiwa lalu adalah hal yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Tentu luar biasa, ternyata begini dunia miniatur negara.

Sebenarnya aku takut ini dusta. Dusta atas kesenangan dengan kalian bersama
Tapi aku yakin, pada saat ini kalian adalah segerombolan yang ingin aku temui.

Di tengah banyaknya ancaman kita, masih saja bisa-bisanya kita tertawa. Lupa atas apa yang tengah kita hadapi. Sesuatu yang aku takuti sekarang adalah ketika tiba saatnya kita berpisah sampai akhir masa kerja. Namun itu suatu hal yang pasti. Satu kalimat sebagai penutup ialah..

#Belum Punya Jargon :D

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Membuka Mata

Alhamdulillah, masih diberi kesempatan untuk bisa melihat warna. Udara sejuk pagi ini masih dengan leganya dihirup dalam-dalam. Jari-jari ini pun lincah menari di atas papan huruf berantakan. Sebentar, diam sejenak !
Masih terdengar suara air mengalir dari keran belakang. Jelas sekali !
Penuh syukur mengawali pagi ini.

“segala puji bagi Allah yang telah membangukan kami dari tidur”

Sesal adalah ketika jiwa ini tidak dapat mendahului datangnya mentari. Kalah oleh nikmatnya tebal selimut dan berlapis kasur empuk. Lalu hanya sesal, menggerutu dalam hati. Selanjutnya ada dua kemungkinan : langsung beranjak atau termenung beberapa lama untuk mengumpulkan nyawa yang jauh berceceran. Keduanya memiliki arti berbeda. Tidak sama dalam harinya. Bagiku

Yang pertama, artinya ia sudah siap. Siap untuk menjalani dengan semua hal yang ingin dilaluinya. Detail.  Ia telah mempunyai gambaran seperti apa ia hari ini. Meskipun grasa-grusu karna mengejar waktu yang hampir telat.
Yang kedua, artinya ia belum cukup siap. Memutuskan untuk membasuh wajah saja harus berhitung lama. Bagaimana dengan yang selanjutnya ?

Bangun impianmu. Bangun semangatmu. Dimulai ketika kamu mampu untuk bangun pagimu, atau bahkan malammu. Sebelum mentari menampakkan diri di hadapan dunia, tampakkanlah dirimu ke seluruh penghuni bumi. Setidaknya begitu yang saya pahami.

Bangun malammu berarti kau siap membangun tali kemesraan dengan pemilik dan pencipta malam. Siap membangun amalan yang mampu mengetuk pintu ampun dan rahmat dari Maha Segala Maha.
Bangun pagimu berarti kau telah siap untuk membuat daftar rencana yang akan kau kerjakan, karena waktu seperti berlari maraton di belakangmu. Kadang ia berlari seolah-olah disampingmu lalu kau tidak ingin tertinggal dibelakangnya.

Dan kesemuanya yang lain akan mengikut. Semangatmu, impianmu, cita-cita, mereka akan dengan sendirinya bangun dan kokoh terpatri kuat di pusat hipotalamus. Mengalirkan sinyal-sinyal perintah saraf neurik-motorik dengan hebatnya, lalu seluruh bagian tubuhmu seperti berbeda. Sel terkecil dalam tubuhmu pun seperti meletup-letup.

Setiap kecil gerak, selangkah jejak kaki diangkat pada harinya, bukan tanpa awalan berarti. Sedari awal ia menata tujuannya dengan jelas. Tujuan yang tidak hanya mengambil satu bagiannya saja, tapi keduanya : dunia – akhirat. Maka ia tulis pada urutan pertama dalam daftarnya : karena, untuk, dan oleh Tuhan yang Maha Menggerakkan.

Lillah, Lillah, Lillah
Semoga setiap laku kita dalam naungan RahmatNya
Lillah, Lillah, Lillah
Meskipun besar rintangan di depan, jalan kemudahan datang dari arah tak disangka
Lillah, Lillah,Lillah
Seletih apapun semuanya, kesabaran dan syukur itu harus tetap tinggal di relung paling dasar : Hati.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

.....tanpa alasan

Menghampirimu adalah sebuah keberanian. Memakan banyak pikiran kemungkinan yang tercipta di otak. Kamu . Saat aku berada di rumah itu, tetap saja debaran tak menentu itu mengiringi gerak-gerikku.
Suatu siang, sehari sebelum lebaran di kota batik aku lewati dengan rasa tak terdefinisikan. Di luar perkiraan. Di pinggir lalu lalang kendaraan otomotif saling berarahan. Kenapa tiba-tiba insiden klasik kita alami saat itu. Dan dengan terpaksanya aku harus berusaha bersikap cair sambil menunggu dengan tenang. Aku sudah merasa gugup sejak awal. Hei, sudah berapa lama tak bertemu. Melihatmu adalah sama saja dengan menyibak kembali rekaman masa lalu. Ah, ingatan seorang anak kecil memang lebih lekat, sampai-sampai hingga saat sekarang pun aku masih menyimpan rekamannya.
Ketika itu kau menangis tersedu dengan keadaan ibumu. Aku tahu perasaanmu saat itu. Bagaimana bisa anak kecil sepertimu waktu itu menghadapi kenyataan itu. Kau tahu ? masih ingatkah waktu saat keberanian menyuruhku untuk menenangkanmu. Ikut menangis dan coba menguatkanmu. Sedewasa apakah aku saat itu. Padahal untuk mengerjakan PR saja aku masih meminta ibu untuk membantuku. Lalu rasa iba itu berubah wujud seiring aku (kita) beranjak usia remaja. Kita masih sering bermain bersama.

“ wah kalau begitu, asik dong cowoknya” sahutmu saat aku menceritakan jumlah laki-laki dalam satu kelasku. Minoritas. Sebuah jawaban jujur seorang lelaki tentang realita. Aku rasa kamu lebih sering terbiasa dengan keadaan itu.

Dan siang itu sambil kita duduk menunggu sesuatu, kamu mengeluarkan sebatang tembakau yang ku tahu mereknya. Sebegitu berbaliknya dari apa yang kuharapkan. Aku yakin, kamu tahu kalau aku tak suka. Bahkan sampai aku menuliskan cerita ini pun aku juga tak mengerti apa alasannya. Untuk apa. Yang ku tahu, aku hanya ingin meluapkannya saja. Agar tidak lagi pemutaran ulang di otakku terus menerus bekerja. Setiap detik setelah siang itu, aku seperti orang tak terkendali. Entah dimana badan, tapi jiwa raga melayang ke waktu itu. Aku hanya ingin melumpuhkan semua ingatan tentang masa lalu.
Dan akhir dari kunjungan ke rumah di bilangan kedungwuni, aku mendapatkan 2 keping motivasi yang tak dinyana. Kenangan tentang kebahagiaan ayah juga kepuasan saat bertemu dengan keponakan lincah. Semua itu, cukup. Cukup. Dan saat aku (barangkali) harus kesana lagi, perlu sering untuk memastikan dan meluruskan niat utama, disamping kehadiranmu : lebih dekat dengan mereka. 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Berjuta Empat Huruf

Ini pertemuan pertama kali kita dari sepanjang jarak menghadang
Lagi kata maaf menyeruak dari hati kecil saat kamu menimbun kekesalan diluar sadarmu
Pertamanya aku ingin beri kesan manis, biar saat nanti aku bisa buatmu terhenyak heran
Pertamanya pun aku sudah siapkan amunisi keberangkatanku dengan merayu sejak pagi buta
Pada ujungnya pun sama saja
Ah, mungkin karena sudah terlalu mendarah daging dalam biasaku





Bagaimana bisa aku tega membuat bidadari cantik ini menunggu
Padahal untuk kesendiriannya, bisa datangkan semacam para penggoda murahan
Aku terlampau tega.
Sampai bisa membuatmu takbisa luapkan titik didih lonjakmu padaku

Sepanjang rerubungan kita semua
Aku bahkan terlalu tega sebagai orang yang kau anggap sahabat.
diam dan biarkan kamu jadi bahan kaguman dan candaan
diam dan lagi-lagi tak bisa sampaikan banyak hal


Sebongkah rasa cinta dan kasih ini mengalahkan setitik kekesalan dan kekecewaanku padamu
Kamu kembali buatku meleleh. Juga rasa heran sebenarnya.
Rasa cinta dan kasih untuk apa dari seorang seperti aku
Tapi rasa sayangku sebagai orang yang kamu anggap sahabat,  juga lebih merasakan hal yang sama
Bahkan kecemburuan acap kali terbit.

B u t u h b a n y a k b e l a j a r d a r i k a m u

" Uly, kok bisa sii deket sama pak Tri"
 tanyamu heran suatu waktu, saat kita berdua bertemu dengan guru olahraga teramah yang kita kenal
 Pertanyaan juga jawaban yang akan menumbuhkan lelucon
 buatmu tepatnya.
Berhubungan dengan cerita yang diukir hari ini . 

Ini jadi PR buat saya sendiri. Dan kamu yang mengerti dan bisa mengevaluasi hasilnya nanti.
Iya, saat nanti untuk pertemuan selanjutnya
Terimakasih untuk banyak hal, untuk segala sesuatu yang kamu ajarkan
terimakasih untuk hari ini, meskipun belum banyak hal yang kita tumpahkan satu-satu :-)

Juga bertumpuk tumpuk maaf  untuk permulaannya.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Surya Hingga Senja Berganti

Hari itu, seorang perempuan remaja dengan gempitanya menyiramkan wadah kecil ke barisan tanaman hijau depan rumah. Melihat takjub mekar bunga putih lagi harum,  dikenal dengan harum identiknya : biasa dijadikan bahan dasar promosi teh hijau. Ia tatap lamat taman kecil di hadapannya, menyejukkan. 
Satu per satu tiap tangkai yang berbeda telah dibahasahi oleh wadah di tangannya. Ia merasa lega.
Di sisi lain, seperti ada hal yang berbeda yang akan ia alami nanti : yang tidak mungkin ia bisa lakukan sama seperti yang dilakukannya saat ini. Di tempat yang tidak sesubur tanah yang dipijakinya.
Dari pagi-pagi buta ia sigap melakukan aktivitas keseharian. Mulai dari depan halaman, hingga dalam rumah telah ia jamahi ketidakseimbangan yang dirasa. Seperti ada letupan mencuat di tiap aliran darahnya, sesuatu yang telah ia nantikan.
Pembawa sinar mulai menampakkan dirinya di hadapan bumi,  anak perempuan itu telah berkutat dengan layar kecil dan sebuah alat kecil yang bertitikkan huruf qwerty. Serius. Matanya sesekali berkedip, kadang ia mengarahan pandangnya ke sudut lain. Jari-jarinya terus bergerak menari lentik .Lalu tersenyum. Setelah itu, segera ia bergerak ke segala arah, mempersiapkan dirinya. Pakaian cukup rapi , tas kecil bergelayut di tangan, dan jilbab menjuntai dengan hembusan angin melintas.

kalau sudah berangkat, sms ya ly.
sebuah pesan singkat meluncur menembus udara sampai batas puncak satelit dan muncul ke layar handphonenya. Berangkat dengan segenap jiwa bebasnya, sebebas burung yang dilepaskan dari kerangkeng maut.
Bermodalkan petunjuk yang disampaikan salah seorang temannya, ia melangkah pasti, menaiki kendaraan umum . Degub di dadanya tidak karuan. Seperti senang, khawatir , dan kaku yang akan dihadapinya nanti. Sampailah ia di pemberhentian yang dimaksud. Ia mencari sosok yang diingatnya. Cukup lama ia beralan memasuki jalan di seberang ia turun dari angkot, mengikuti ingatan terakhir yang pernah ia tapaki.
seulas senyum pun terbit di wajahnya, ketika ia melihat sosok wanita tinggi dengan jilbab putih. Berjalan pasti saling menghampiri lalu keduanya bertemu di satu titik , di tengah keramaian dari orang-orang yang berkerumunan sepanjang jalan. 
----

Kamu masih sama. Ketika kebanyakan orang dengan muram durja dengan harinya, kamu tetap sahaja dengan raut teduhmu. Senyum sederhana yang memiliki banyak makna, salah satunya keikhlasan. Kamu berbeda dengan yang lain, saat mereka menjauhi seseorang , kamu malah tetap menemaninya. menjadi dirimu sendiri, seteguh apa yang kamu ketahui.
Masih dengan sosok tinggi semampai, sepadan dengan berat tubuhmu. Kesederhanaan yang selalu terpancar tiap sudut manapun aku melihatmu. Berapa lama waktu dan jarak mengajarkan kita tentang arti kesabaran. Sampai aku melihat sosokmu lagi pun tetap saja sayang ini tidak terbantahkan.
Bagiku kamu salah satu sahabat langka yang tidak banyak ditemui di belahan bumi ini : teduh pandangmu mengingatkanku akan Penciptamu, penciptaku,dan  pencipta seluruh alam semesta ini.  Semoga kita semua diberkahi dalam naungan kebaikanNya. aamiin
---
Dua perajut mimpi ini tadi berjalan ke sebuah minimarket untuk suatu hal. Ada kecanggungan disana,  dirasakan oleh perempuan yang menghampiri kawannya tadi. Setelah itu, keduanya pun menuju rumah si berjilbab putih. Sepi. Haru. Bingung. Senang. Banyak cerita yang dilontarkan satu satu antara mereka. Namun seringkali juga saling diam, mencari hal lain untuk dibicarakan. Tertawa lalu diam lagi.
Sampai waktupun yang menyatukan keduanya, lalu mereka saling mengalir . dari perjalanan masing-masing, hingga mimpi-mimpi mereka juga kawan-kawannya yg lain.
" iya, nanti aku tanggungjawab kesehatan. ngurusin yang pd syahid disana." kata salah seorang dari mereka ketika bicara tentang ranah luas. sangaaat luas.
"tapi ekonomi juga penting loh. justru ayahku bilang , ekonomi orang islam harus lebih, biar kita bisa beramal lebih" katanya lagi
"kalo itu berarti aii. dia yang tanggungawabin perekonomian kita"
"iya si fulanah yang keamanan kelautan juga pasokan pangan ikan"
"nah, yang fulan buat racikan bahan penting obat"
dan banyaak haaaal yang dilanturkan kedua saat itu sampai dengan liga sepakbola di negara barat sana pun jadi bahan perbincangan . Bercanda, tapi juga sebuah harapan dan mimpi yang tersirat. perbincangan yang akhirnya larut oleh waktu. 
sampai senja datang menggantikan sang surya, keduanya pun akhirnya berpisah. meninggalkan kesan baru untuk waktu yang lama tidak dapat lagi dilakukan. Seuntai doa yang kemudian terlirih di hati masing-masing antara keduanya. 


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Semburat Hati Memanggil

Aku akan pergi” katamu tiba-tiba

kapan?” aku menjawab kalimatmu yang diluar perkiraanku.

“sekarang. saat ini

kenapa ?” aku cepat menggidik. Cemas mendengar kata yang kau lontarkan barusan.

Rasanya tidak ingin kamu pergi cepat begitu saja. Aku ingin di waktumu sangat lama. Penantian panjang yang ku tunggu, tidak ingin kamu berlalu cepat begitu saja. Aku sudah mempersiapkan semua saat menjemput kedatanganmu. Waktu itu  aku sangat gairah untuk menyapamu. Kubuat daftar pencapaian agar aku tidak sia-sia saat bersamamu. agar aku bisa lebih dekat…

“karena masanya sudah tiba” katamu melanjutkan

tapi jangan sekarang.. terlalu cepat” aku mengiba padamu. berharap supaya kamu mengasihani aku dan kamu tidak jadi pergi. tapi tetap saja, kamu perlahan melangkah mundur. menjauhiku. sampai aku pun tidak dapat melihatmu lagi. aku berlari ke seluruh arah, kamu tetap menghilang, tak ditemukan.
hanya ingatan saat kemarin aku menghabiskan waktu bersamamu. aku menyesal : belum semua target yang kuharapkan tercapai. aku belum mampu menghabiskan detikmu dengan apa yang kutulis. aku marah, kesal dengan diriku sendiri.

Disaat lelah mencarimu, aku merebah di bawah pohon jati. Bersama semut-semut yang merangkai padu pada sebuah bolongan kecil di gundukan tanah. Ah, mereka mungkin juga menyayangkan kepergianmu. Namun bedanya mereka mengantarmu dengan perbekalan yang cukup. Aku termenung hingga tak sadar tertidur bersama hembusan angin yang menerpa wajahku selir-selir.

Aku bertemu denganmu lagi di mimpiku. tapi aku tidak bisa melihatmu. hanya suara yang terdengar tanpa wujud yang ku indera.

” antar waktu dengan waktu-waktu yang bergantian menghampirimu tidaklah beda. kami datang memberikan kesempatan dengan rentang yang sama”

“tapi aku ingin lebih denganmu” kataku menjawab. aku arahkan wajahku keseluruh sisiku

“kenapa ? karena aku lebih istimewa ?” masih sama dengan nada lembutmu
.
“lalu apa saja yang sudah kau lakukan saat aku datang? menyesalkah saat aku pergi?”

Aku diam. pertanyaan yang tak usah kuucap dengan lisanku. hati kecilku yang mampu bicara. Aku tergugu. Kaku.
Lalu tiba-tiba ada sinar putih merebut perhatian kedua mataku. sinarnya semakin terang. Aku memicingkan mataku. semua terang dan aku makin silau.
——-
” Dek, mana janur mudanya ?.”  ku buka mataku perlahan. silau samar-samar. Matahari semakin terik menggodaku. Terlihat sosok perempuan dengan kain kudung di kepalanya.

” Katanya habis subuh mau bantu cari daun janur buat ketupat besok. kok malah tidur di kebon nduk. ” ibuku menepuk pipiku pelan. Ah, aku lupa. tadi subuh ibu memintaku untuk mencari daun janur untuk lebaran esok. Aku bergegas. menelusuri kebon untuk permintaan sang ibu.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Dan Karena Jauh, Lalu.. ?

dan karena jauh,
maka bersyukurlah
 karena setiap jarak yang kita miliki
 menyimpan arti tersendiri
 yang akan membedakan kita
dengan yang lain

dan karena jauh,
dengannya kita semakin gencar
mengejar sesuatu untuk mencapai
titik sempurna

dan karena jauh,
kita akan temukan
sebuah pelajaran dalam perjalanan
kita masing-masing

dan karena jauh,
kita semakin cerdik
 mencari waktu kosong
untuk dapat kita pikirkan
di saat yang sama

dan karena jauh,
 mimpi-mimpi itu semakin tertanam
agar kita dapat mencapai
pada waktu yang tepat

-----------------------------------------------------------------------------------------------

:: sebenarnya udah lama banget terlintas buat puisi ttg jauh, tapi baru terealisasikan sekarang :D
intinya karena jauh tidak selalu memberikan kesan negatif ;-)
terinspirasi diawali karena jauh yang dirasakan saat harus merantau :D ::

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

LOVE IN SILENT

LOVE IN SILENT
LOVE IN SILENT

LOVE IN SILENT
LOVE IN SILENT
LOVE IN SILENT
LOVE IN SILENT
LOVE IN SILENT
LOVE IN SILENT
LOVE IN SILENT
LOVE IN SILENT
LOVE IN SILENT
LOVE IN SILENT
LOVE IN SILENT
LOVE IN SILENT
LOVE IN SILENT
LOVE IN SILENT
LOVE IN SILENT
LOVE IN SILENT
LOVE IN SILENT
LOVE IN SILENT
LOVE IN SILENT
LOVE IN SILENT
LOVE IN SILENT
LOVE IN SILENT
LOVE IN SILENT
LOVE IN SILENT
LOVE IN SILENT


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Jelang Berbuka

oke, sore ini saya bener-bener membuncah
segarang singa mengejar mangsanya
jadi gregett lagi buat nulis
entah apa sebab muasalnya
sepertinyaa, setelah baca tulisan-tulisannya itu :')

Dulu waktu pertama kali saya menulis cerita, apapun itu..
ada sebuah motif yang mendasar dibaliknya
berawal dari sebuah kekaguman pada seseorang
dia suka nulis, tulisannya selalu buat saya mengalir

 mungkin itu sebuah terapan dari sebuah kalimat
"mencintai yang dicintai oleh yang tercinta
merupakan sebagian mencintai yang tercinta"
semua tulisannya bahkan saya museumkan dalam piringan memori otomatis
dan saya seringkali mengujungi rumah karyanya di dunia maya

tapi sekarang ini ~orang yang tidak bisa disebut namanya~ entah apa kabarnya
sekarang.. ada orang lain yang buat saya tergugah (lagi)
inspiring person for me ! :-)

but,  out of it saya ingin kembali menghidupkan otak kecil saya
untuk lagi menghasilkan tulisan-tulisan inspiratif
menjadi my own self tentunya.
Dan saya harus meluruskan niat,
bukan (lagi) karena seseorang
tapi karena menulis adalah sebuah upaya mengkristalkan ide-ide atau sesuatu yang berkecamuk di pikiran


Retorika memang mudah,,
seperti saya bilang,
aplikasi tak semudah teori
tapi sebuah pisau yang tajam tak hanya diasah sekali, kan ?
just try it :-)




  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Syukur Sederhana

Pagi ini cerah, sama seperti pagi-pagi sebelumnya yang telah dilewati
Saat membuka mata alangkah bahagianya ketika semua dimensi seni di sekeliling kita dapat dinikmati tanpa kekurangan sedikit pun
Aku rasa itu suatu hal yang luar biasa, namun terkadang kita tidak sadar mengabaikan kenikmatan besar itu
Coba saja bayangkan jika seandainya saat membuka mata, hanya gelap di sekeliling kita
Melihat kemanapun seperti berada dalam goa di tengah hutan

Belum lagi saat menghirup udara sejuk dalam-dalam
Haaaaahhhh....
Benar-benar suatu anugrah yang luar biasa

"Maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?"





  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Maraton

Entah sadar atau tidak, rasanya waktu itu sudah tidak lagi berjalan.
Bahkan sekarang ia berlari dengan kecepatan bak pelari maraton.
Kita saat ditanya kapan terakhir menjadi anak kecil, kapan terakhir diceritakan dongengan "kancil dan buaya" oleh ayah, kapan terakhir disuapi ibu setiap pagi, kapan terakhir bermain-main di ayunan taman saat sore hari, dan kapan terakhir yang lainnya
tidak jauh-jauh,, kesimpulan pertama " rasanya baru kemaren deh"
Atau memang karena kita yang terlalu menikmati hari
sampai-sampai pun kita lupa bahwa rentetan target tidak tahu kabarnya

Ada dua kemungkinan
Pertama, waktu begitu sangat cepat bagi orang yang lengah
 hingga pada akhirnya ia menyesal
atau yang Kedua,
waktu begitu sangat singkat untuk menyusun bangunan pencapaian
karena setiap waktunya begitu banyak kegiatan yang selalu ia lakukan dari susunan rencananya.

"spontanitas aja, itu lebih natural" kata sebagian orang
yah, tiap orang punya karakter masing-masing
entah ia bagaimanapun ragamnya.
tapi ini soal waktu menurutku

banyak karya yang harus tercapai
karena bagiku, dengan begitu hidup ini menjadi bermakna





  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Selaksa Warna

Demi jiwa ini yang tak berdaya apa-apa
Tak mampu ku berbuat
Juga berkata
Melainkan Sang Pemilik Cinta
Memberikan kesempatan padaku
Tentang gundah yang dirasa
Bersemayam dalam raga
Tentang ingin tahu yang menghantu
Di setiap detik menghabis waktu
Aku harus mampu
Menjaga maruah jati diri
Walau gejolak memaksaku
Menunjukkan agar yang tersebut tahu
Lelah payah aku seperti ini
Tak sedikit pun sesal tertinggal
Perasaan meremaja
Yang menambah warna perjalanan
Mengajarkan bahwa hidup tak selalu putih
Namun ia dapat membias
Membentang jauh dengan berbagai pilihan
Dan aku pernah tahu
Untuk dapatkan yang baik
Diawali dengan yang sebaik-baiknya

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS