RSS

.....tanpa alasan

Menghampirimu adalah sebuah keberanian. Memakan banyak pikiran kemungkinan yang tercipta di otak. Kamu . Saat aku berada di rumah itu, tetap saja debaran tak menentu itu mengiringi gerak-gerikku.
Suatu siang, sehari sebelum lebaran di kota batik aku lewati dengan rasa tak terdefinisikan. Di luar perkiraan. Di pinggir lalu lalang kendaraan otomotif saling berarahan. Kenapa tiba-tiba insiden klasik kita alami saat itu. Dan dengan terpaksanya aku harus berusaha bersikap cair sambil menunggu dengan tenang. Aku sudah merasa gugup sejak awal. Hei, sudah berapa lama tak bertemu. Melihatmu adalah sama saja dengan menyibak kembali rekaman masa lalu. Ah, ingatan seorang anak kecil memang lebih lekat, sampai-sampai hingga saat sekarang pun aku masih menyimpan rekamannya.
Ketika itu kau menangis tersedu dengan keadaan ibumu. Aku tahu perasaanmu saat itu. Bagaimana bisa anak kecil sepertimu waktu itu menghadapi kenyataan itu. Kau tahu ? masih ingatkah waktu saat keberanian menyuruhku untuk menenangkanmu. Ikut menangis dan coba menguatkanmu. Sedewasa apakah aku saat itu. Padahal untuk mengerjakan PR saja aku masih meminta ibu untuk membantuku. Lalu rasa iba itu berubah wujud seiring aku (kita) beranjak usia remaja. Kita masih sering bermain bersama.

“ wah kalau begitu, asik dong cowoknya” sahutmu saat aku menceritakan jumlah laki-laki dalam satu kelasku. Minoritas. Sebuah jawaban jujur seorang lelaki tentang realita. Aku rasa kamu lebih sering terbiasa dengan keadaan itu.

Dan siang itu sambil kita duduk menunggu sesuatu, kamu mengeluarkan sebatang tembakau yang ku tahu mereknya. Sebegitu berbaliknya dari apa yang kuharapkan. Aku yakin, kamu tahu kalau aku tak suka. Bahkan sampai aku menuliskan cerita ini pun aku juga tak mengerti apa alasannya. Untuk apa. Yang ku tahu, aku hanya ingin meluapkannya saja. Agar tidak lagi pemutaran ulang di otakku terus menerus bekerja. Setiap detik setelah siang itu, aku seperti orang tak terkendali. Entah dimana badan, tapi jiwa raga melayang ke waktu itu. Aku hanya ingin melumpuhkan semua ingatan tentang masa lalu.
Dan akhir dari kunjungan ke rumah di bilangan kedungwuni, aku mendapatkan 2 keping motivasi yang tak dinyana. Kenangan tentang kebahagiaan ayah juga kepuasan saat bertemu dengan keponakan lincah. Semua itu, cukup. Cukup. Dan saat aku (barangkali) harus kesana lagi, perlu sering untuk memastikan dan meluruskan niat utama, disamping kehadiranmu : lebih dekat dengan mereka. 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS