“Aku akan pergi” katamu tiba-tiba
“kapan?” aku menjawab kalimatmu yang diluar perkiraanku.
“sekarang. saat ini”
“kenapa ?” aku cepat menggidik. Cemas mendengar kata yang kau lontarkan barusan.
Rasanya tidak ingin kamu pergi cepat begitu saja. Aku ingin di waktumu sangat lama. Penantian panjang yang ku tunggu, tidak ingin kamu berlalu cepat begitu saja. Aku sudah mempersiapkan semua saat menjemput kedatanganmu. Waktu itu aku sangat gairah untuk menyapamu. Kubuat daftar pencapaian agar aku tidak sia-sia saat bersamamu. agar aku bisa lebih dekat…
“karena masanya sudah tiba” katamu melanjutkan
“tapi jangan sekarang.. terlalu cepat” aku mengiba padamu. berharap supaya kamu mengasihani aku dan kamu tidak jadi pergi. tapi tetap saja, kamu perlahan melangkah mundur. menjauhiku. sampai aku pun tidak dapat melihatmu lagi. aku berlari ke seluruh arah, kamu tetap menghilang, tak ditemukan.
hanya ingatan saat kemarin aku menghabiskan waktu bersamamu. aku menyesal : belum semua target yang kuharapkan tercapai. aku belum mampu menghabiskan detikmu dengan apa yang kutulis. aku marah, kesal dengan diriku sendiri.
Disaat lelah mencarimu, aku merebah di bawah pohon jati. Bersama semut-semut yang merangkai padu pada sebuah bolongan kecil di gundukan tanah. Ah, mereka mungkin juga menyayangkan kepergianmu. Namun bedanya mereka mengantarmu dengan perbekalan yang cukup. Aku termenung hingga tak sadar tertidur bersama hembusan angin yang menerpa wajahku selir-selir.
Aku bertemu denganmu lagi di mimpiku. tapi aku tidak bisa melihatmu. hanya suara yang terdengar tanpa wujud yang ku indera.
” antar waktu dengan waktu-waktu yang bergantian menghampirimu tidaklah beda. kami datang memberikan kesempatan dengan rentang yang sama”
“tapi aku ingin lebih denganmu” kataku menjawab. aku arahkan wajahku keseluruh sisiku
“kenapa ? karena aku lebih istimewa ?” masih sama dengan nada lembutmu
.
“lalu apa saja yang sudah kau lakukan saat aku datang? menyesalkah saat aku pergi?”
Aku diam. pertanyaan yang tak usah kuucap dengan lisanku. hati kecilku yang mampu bicara. Aku tergugu. Kaku.
Lalu tiba-tiba ada sinar putih merebut perhatian kedua mataku. sinarnya semakin terang. Aku memicingkan mataku. semua terang dan aku makin silau.
” Katanya habis subuh mau bantu cari daun janur buat ketupat besok. kok malah tidur di kebon nduk. ” ibuku menepuk pipiku pelan. Ah, aku lupa. tadi subuh ibu memintaku untuk mencari daun janur untuk lebaran esok. Aku bergegas. menelusuri kebon untuk permintaan sang ibu.
“kapan?” aku menjawab kalimatmu yang diluar perkiraanku.
“sekarang. saat ini”
“kenapa ?” aku cepat menggidik. Cemas mendengar kata yang kau lontarkan barusan.
Rasanya tidak ingin kamu pergi cepat begitu saja. Aku ingin di waktumu sangat lama. Penantian panjang yang ku tunggu, tidak ingin kamu berlalu cepat begitu saja. Aku sudah mempersiapkan semua saat menjemput kedatanganmu. Waktu itu aku sangat gairah untuk menyapamu. Kubuat daftar pencapaian agar aku tidak sia-sia saat bersamamu. agar aku bisa lebih dekat…
“karena masanya sudah tiba” katamu melanjutkan
“tapi jangan sekarang.. terlalu cepat” aku mengiba padamu. berharap supaya kamu mengasihani aku dan kamu tidak jadi pergi. tapi tetap saja, kamu perlahan melangkah mundur. menjauhiku. sampai aku pun tidak dapat melihatmu lagi. aku berlari ke seluruh arah, kamu tetap menghilang, tak ditemukan.
hanya ingatan saat kemarin aku menghabiskan waktu bersamamu. aku menyesal : belum semua target yang kuharapkan tercapai. aku belum mampu menghabiskan detikmu dengan apa yang kutulis. aku marah, kesal dengan diriku sendiri.
Disaat lelah mencarimu, aku merebah di bawah pohon jati. Bersama semut-semut yang merangkai padu pada sebuah bolongan kecil di gundukan tanah. Ah, mereka mungkin juga menyayangkan kepergianmu. Namun bedanya mereka mengantarmu dengan perbekalan yang cukup. Aku termenung hingga tak sadar tertidur bersama hembusan angin yang menerpa wajahku selir-selir.
Aku bertemu denganmu lagi di mimpiku. tapi aku tidak bisa melihatmu. hanya suara yang terdengar tanpa wujud yang ku indera.
” antar waktu dengan waktu-waktu yang bergantian menghampirimu tidaklah beda. kami datang memberikan kesempatan dengan rentang yang sama”
“tapi aku ingin lebih denganmu” kataku menjawab. aku arahkan wajahku keseluruh sisiku
“kenapa ? karena aku lebih istimewa ?” masih sama dengan nada lembutmu
.
“lalu apa saja yang sudah kau lakukan saat aku datang? menyesalkah saat aku pergi?”
Aku diam. pertanyaan yang tak usah kuucap dengan lisanku. hati kecilku yang mampu bicara. Aku tergugu. Kaku.
Lalu tiba-tiba ada sinar putih merebut perhatian kedua mataku. sinarnya semakin terang. Aku memicingkan mataku. semua terang dan aku makin silau.
——-
” Dek, mana janur mudanya ?.” ku buka mataku perlahan. silau
samar-samar. Matahari semakin terik menggodaku. Terlihat sosok perempuan
dengan kain kudung di kepalanya.” Katanya habis subuh mau bantu cari daun janur buat ketupat besok. kok malah tidur di kebon nduk. ” ibuku menepuk pipiku pelan. Ah, aku lupa. tadi subuh ibu memintaku untuk mencari daun janur untuk lebaran esok. Aku bergegas. menelusuri kebon untuk permintaan sang ibu.







0 komentar:
Posting Komentar