Menghampirimu adalah sebuah
keberanian. Memakan banyak pikiran kemungkinan yang tercipta di otak. Kamu .
Saat aku berada di rumah itu, tetap saja debaran tak menentu itu mengiringi
gerak-gerikku.
Suatu siang, sehari sebelum
lebaran di kota batik aku lewati dengan rasa tak terdefinisikan. Di luar
perkiraan. Di pinggir lalu lalang kendaraan otomotif saling berarahan. Kenapa
tiba-tiba insiden klasik kita alami saat itu. Dan dengan terpaksanya aku harus
berusaha bersikap cair sambil menunggu dengan tenang. Aku sudah merasa gugup
sejak awal. Hei, sudah berapa lama tak bertemu. Melihatmu adalah sama saja
dengan menyibak kembali rekaman masa lalu. Ah, ingatan seorang anak kecil
memang lebih lekat, sampai-sampai hingga saat sekarang pun aku masih menyimpan
rekamannya.
Ketika itu kau menangis tersedu
dengan keadaan ibumu. Aku tahu perasaanmu saat itu. Bagaimana bisa anak kecil
sepertimu waktu itu menghadapi kenyataan itu. Kau tahu ? masih ingatkah waktu
saat keberanian menyuruhku untuk menenangkanmu. Ikut menangis dan coba
menguatkanmu. Sedewasa apakah aku saat itu. Padahal untuk mengerjakan PR saja
aku masih meminta ibu untuk membantuku. Lalu rasa iba itu berubah wujud seiring
aku (kita) beranjak usia remaja. Kita masih sering bermain bersama.
“ wah kalau begitu, asik dong
cowoknya” sahutmu saat aku menceritakan jumlah laki-laki dalam satu kelasku.
Minoritas. Sebuah jawaban jujur seorang lelaki tentang realita. Aku rasa kamu
lebih sering terbiasa dengan keadaan itu.
Dan siang itu sambil kita duduk
menunggu sesuatu, kamu mengeluarkan sebatang tembakau yang ku tahu mereknya.
Sebegitu berbaliknya dari apa yang kuharapkan. Aku yakin, kamu tahu kalau aku
tak suka. Bahkan sampai aku menuliskan cerita ini pun aku juga tak mengerti apa
alasannya. Untuk apa. Yang ku tahu, aku hanya ingin meluapkannya saja. Agar
tidak lagi pemutaran ulang di otakku terus menerus bekerja. Setiap detik
setelah siang itu, aku seperti orang tak terkendali. Entah dimana badan, tapi
jiwa raga melayang ke waktu itu. Aku hanya ingin melumpuhkan semua ingatan
tentang masa lalu.
Dan akhir dari kunjungan ke rumah
di bilangan kedungwuni, aku mendapatkan 2 keping motivasi yang tak dinyana.
Kenangan tentang kebahagiaan ayah juga kepuasan saat bertemu dengan keponakan
lincah. Semua itu, cukup. Cukup. Dan saat aku (barangkali) harus kesana lagi,
perlu sering untuk memastikan dan meluruskan niat utama, disamping kehadiranmu
: lebih dekat dengan mereka.






0 komentar:
Posting Komentar